Senin, 03 Desember 2012

Indonesia, Mengapa Miskin ?


Judul artikelnya tentu kontradiktif dengan tagline negara kita : "Indonesia is a rich country"

Kira-kira begitulah kalimat yang keluar dari orang-orang bule seperti Obama, Miss Universe, Hillary Clinton, dll waktu berkunjung kemari.

Miskin yang dimaksud bukan miskin sumber daya alam. 

Well, Indonesia is really rich country. SDA kita melimpah luar biasa. (Saking melimpahnya sampai diserahkan ke pihak asing :-P)
Miskin yang dimaksud adalah miskin dalam melahirkan ide dan perubahan positif hingga mengakibatkan kita kebingungan memanfaatkan potensi SDA yang bertebaran di sekeliling kita. 

Orang asing mungkin tertawa geli, bagaimana mungkin negeri sekaya Indonesia memiliki jumlah penduduk miskin yang relatif tinggi. Bagaimana mungkin negeri agraria itu gagal mengatasi wabah busung lapar. Bagaimana mungkin negeri dengan dengan lahan luas nan subur itu mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam. Itu jelas terdengar lucu sekaligus mengenaskan. 
Ada sejumlah penyebab mengapa negara kita sulit untuk maju. Di antaranya sebagai berikut : 

Pertama, adanya jaringan KKN se-nusantara. 

bukan Kuliah Kerja Nyata ya, tapi Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme. Praktik paling khianat ini tentu melumpuhkan kreativitas dan kinerja pemerintahan. Mengalirkan dana ke kantung pribadi, menggelembungkan biaya program kerja, melakukan perjalanan dinas yang ga seberapa penting, pulang kerja sebelum waktunya, mempekerjakan kolega yang ga punya kapasitas, menyuap, dll. Kerugian yang diderita negeri ini begitu besar karena praktik KKN. Citizen journalist mencatat bahwa potensi kerugian akibat korupsi mencapai Rp. 2,169 triliun pada tahun 2011 dengan 436 kasus dan 1.053 tersangka. (Ingat, triliun jumlah nolnya 9 digit !). Ini korupsi dalam skala besar yang “tercatat”, kroni-kroninya belum termasuk.




Kedua, penguasaan IPTEK masih rendah.
Ilmu adalah jendela dunia. Jika ingin menguasai dunia, maka pelajarilah ilmu yang bermanfaat. Para pepatah bijak tentu sudah memikirkan makna ungkapan tersebut secara mendalam. Penguasaan ilmu dan penciptaan teknologi inovatif akan menghasilkan efektivitas dan efisiensi kerja yang lebih baik.

Dari hal yang paling sederhana misalnya, Indonesia menempati urutan minat baca terendah se-Asia Tenggara. Berdasarkan survei yang dilakukan UNESCO, indeks membaca masyarakat Indonesia baru sekitar 0,001. Artinya dari 1.000 penduduk hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Baik orang dewasa dan anak-anak lebih menyukai kotak elektronik bernama televisi dibanding buku bacaan.


Dari penelitian yang dihasilkan, Indonesia termasuk negara terendah dalam menghasilkan penelitian dan penemuan. Para peneliti di Indonesia hanya menerima  5 juta rupiah untuk sebuah penelitian. Sebagai perbandingan, Malaysia memberikan tunjangan 45 juta/penelitian, Amerika Serikat 90 juta/penelitian, dan yang tertinggi adalah Jepang dengan tunjangan sebesar 600 juta/penelitian. Karena tingginya tunjangan penelitian tersebut, tidak heran Negeri Sakura itu menjadi raksasa ekonomi dunia.

Dengan ditemukannya berbagai jenis teknologi, negara maju mendapat dua keuntungan. Pertama, efisiensi dan efektivitas produksi. Kedua, menerima keuntungan berupa pendapatan dan royalti jika produknya dibeli negara lain.Berbeda dengan Indonesia, hampir semua produk teknologi yang digunakan adalah milik asing, tenaga ahlinya orang asing, bahkan modalnya milik asing.
Yah, akibatnya sebagian besar kekayaan negeri ini mengalir ke negara lain.

Ketiga, membudayanya konsumerisme.
Ini salah satu faktor penyebab kemiskinan di Indonesia, yakni gaya hidup konsumtif. Jadi ingat kata-kata Pak Tung Desem Waringin, orang kaya berinvestasi, orang menengah mengumpulkan aset, orang miskin berbelanja. (Maaf Pak, jika ada kalimat yang kurang tepat :P) 


Namun begitulah, orang kaya semakin kaya karena menunda kesenangan dan menginvestasikan sebagian besar pendapatannya untuk diputar menjadi modal usaha, membeli saham, dan aktiva tetap. Orang menengah terus membeli aset yang menurut mereka “mirip orang kaya” seperti mobil, handphone, dll. Padahal aktiva tersebut tidak menghasilkan apapun melainkan menambah beban seperti pajak, biaya bahan bakar, biaya pulsa, dll. Sementara yang miris adalah orang miskin. Akibat korban modernisasi, mereka terobsesi untuk berbelanja pakaian, beli motor, beli televisi, kulkas, radio, tape, dll. Pendapatan mereka berbanding sejajar dengan pengeluaran. Budaya konsumerisme juga tampak dari konsumsi rokok. Menteri Kesehatan memaparkan bahwa perokok aktif di Indonesia sebagian besar justru berasal dari kalangan masyarakat miskin.



Nah, inilah 3 faktor terbesar penyebab kemiskinan di Indonesia. Ternyata selama ini yang “salah” bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat. Nah lho. Ayolah, berhenti saling menyalahkan. Yuk, sama-sama memperbaiki diri. Rantai kemiskinan hanya bisa dilonggarkan bila ada kerjasama yang baik antara pemerintah dan masyarakat.

“Orang bodoh memaki kegelapan. Orang bijak menyalakan lilin dalam kegelapan.”


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar